
Semenjak lulus dengan predikat terbaik dari sekolah Sancta Ursula, Jakarta, Bungsu dari tiga perempuan bersaudara ini mulai membangun karir kepenulisannya. Ia pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu di Nanyang Technological University (NTU) mengambil jurusan jurnalistik dan publishing. Sepanjang kuliah, ia mengukir pengalaman berharga di bidang jurnalisme. Diantaranya menjadi salah satu desainer dan pengembang portal jurnalisme bernama Journalism Wiki (www.world-journalism.org). Selain itu, di masa itu, ia juga menjadi kontributor untuk Majalah Hidup. Semenjak Januari 2008, ia bekerja sebagai country editor untuk MSN Indonesia.
Semasa kuliah di perguruan tinggi NTU, gadis yang menguasai bahasa Inggris, Perancis , Mandarin (dan tentunya Indonesia ) ini kerap berurusan dengan pemerintah Singapura terkait dengan tulisan-tulisannya yang tegas dan kritis. Margie juga merupakan blogger yang konsisten menyerukan pluralisme, perlunya penanaman pemahaman multikultural sejak dini, tanpa terbebani dengan atribut sosial seperti darah China dan Katholik yang mengalir pada dirinya. Margie kini memuaskan obsesinya bercerita lewat pekerjaannya sebagai Country Editor untuk MSN Indonesia dan Lifestyle Editor untuk MSN Singapura. Penikmat gosip ini juga adalah blogger tamu untuk Kompasiana.
Margareta Astaman selalu punya mimpi gila yakni Dia ingin hidup sebagai tukang cerita. Sebuah pekerjaan idealis yang bahkan tidak bisa didefinisikan dalam KTP. Saat ini, penulis buku berjudul “Cruise On You" ini sedang berpartisipasi aktif di dalam proyek Beswan Djarum Bakti Pendidikan untuk memperkenalkan dan memberikan arahan kepada pemegang beasiswa tersebut untuk menggunakan blog sebagai saluran untuk mengekspresikan ide dan berdiskusi. Sebagai apresiasi Beswan Djarum terhadap buku karangan Margareta, buku tersebut diberikan sebagai Top Member Active Blog kepada peserta Beswan Djarum.[Septian/Redaksi]
Setiap member Beswan Djarum juga mendapat kesempatan langsung untuk kenal lebih dekat dengan Margareta dengan cara tanya jawab melalui artikel tokoh kita. 10 penanya yang beruntung dipilih oleh Margareta Astaman akan mendapatkan buku "After Orchards". Kesepuluh penanya yang beruntung adalah sebagai berikut:
Pratiwa Dyatmika: Jika melihat mbak Margareta ini, saya sangat kagum. Tentu hal yang sangat dikagumi banyak orang ialah ketika di usianya yang tergolong muda mbak Margareta telah memiliki segudang prestasi, bahkan pengalaman yang bertaraf internasional. Dan tentunya ini sangat membanggakan dan membahagiakan serta menjadi semangat dan dorongan untuk terus maju dan berkarya. Jika dilihat lebih jauh lagi mbak Margaret ini hidupnya dipenuhi dengan rasa syukur. Sebelum mbak Margareta menjadi besar seperti ini, tentu ada banyak hal kecil yang mbak Margareta tak lupakan.Pertanyaan saya cukup sederhana mbak,3 hal kecil/sederhana (yang kadang orang lain anggap biasa)apa yang membuat mbak Margareta bahagia? Selain itu mengapa mbak margareta tetap ingin menjadi seorang tukang cerita, walau mungkin nama mbak Margareta telah mendunia, apakah menjadi seorang tukang cerita lebih membanggakan dibanding ratusan jenis pekerjaan lain yang sangat mungkin mbak Margareta jabati dan lebih bergengsi? Terimakasih ya Mbak Margareta, Teruslah menjadi Terang buat kami semua para junior yang juga ingin bermimpi seperti mbak Margareta....
Margareta Astaman: Wah, nggak bisa ada habis-habisnya aku menyebut satu-satu hal-hal yang terlihat kecil tapi sangat membantu hidupku.Toilet, misalnya, adalah penemuan sangat berharga yang membantu sanitasi manusia! Tapi jika ada beberapa hal yang menurutku adalah survival kit, satu, indra, bagiku mata. Berjalan ditempat-tempat yang menakjubkan, aku bersyukur sekali bisa diberi kesempatan untuk melihat apa yang telah diciptakan Tuhan. Dua, teman dan keluarga berbagi cerita jalan-jalan itu. Kadang saat sedang duduk-duduk tertawa aku berpikir berpikir, betapa senangnya aku saat ini karena temanku. Tiga, tawa dan senyum itu sendiri. Bisa dibayangkan jika aku tidak bisa tertawa, alangkah tidak lepasnya momen bersama keluarga dan teman itu. Senyum juga selalu membantu menjalin pertemanan baru . Bagiku, tukang cerita adalah sebuah cita-cita yang terus membuatku bercita-cita tanpa henti. Jika aku memilih cita-cita sebagai penulis, atau jurnalis, mungkin suatu saat setelah mempublikasikan sesuatu, aku bisa berpikir bahwa aku telah mencapainya dan berhenti berkarya. Sedangkan profesi tukang cerita, tidak punya batas yang jelas. Setelah jadi jurnalis tukang cerita, mungkin saja aku harus mencoba kegiatan lain yang juga manifestasi tukang cerita, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi tukang cerita bagi keluarga. Lagipula cerita itu nggak ada habisnya, maka mudah-mudahan aku juga semangat untuk tidak berhenti berkarya mencapai 'cita-cita' itu.
Marentyas M.K: salam jurnalistik! hehehhehehe mbak Margie, saya salah satu orang yang ada ketertarikan terhadap dunia jurnalistik, saya sempat magang di radar malang sebagai wartawan. banyak pengalaman yang saya dapatkan disana, mulai dari bagaimana menguak informasi dari seorang narapidana sampai dengan keidupan wartawan yang ibarat raja jalanan. sempat terbersit dalam benak saya ingin menjadi kuli tinta seperti senior2 saya yang saya ikuti wkt magang, tetapi niat itu pupus tatkala kedua orang tua saya melarang dengan berbagai alasan. cukup masuk akal memang alasan beliau berdua, bahwa akan sangat berat profesi ini bagi perempuan. nah, yang menjadi pertanyaan saya, benarkah hal tersebut?apakah sebagai perempuan, profesi ini membatasi gerak kodrati kita? trimksh, mhn bntuannya...
Margareta Astaman: Salam jurnalistik juga! Untungnya kita sudah tidak lahir di jaman baheula ya? Secara keseluruhan, tidak ada lagi diskriminasi dalam perlakuan, akses dan kemampuan menulis. Memang pada saat aku mengerjakan liputan, masih ada stereotip-stereotip terhadap wanita yang sering menghalangi tugas. Mau interview malah digodain mau investigasi malah dianggap remeh. Tapi sedikit stereotip yang ada, justru bisa jadi 'kelebihan' jurnalis perempuan. Misalnya saja, kita bisa terus mendapatkan jawaban yang jujur tanpa ada kewaspadaan berlebih dari nara sumber karena menurutnya perempuan itu 'tidak berbahaya'. Dari yang aku lihat dari sesama jurnalis perempuan, justru dari dalam kita sendiri yang muncul pandangan yang �membatasi diri. Kalau kita merasa bisa, maka tidak ada yang bakal bilang kita tidak bisa, hanya karena jenis kelamin.
Johan Tectona: Mbak Margie, saya tertarik dengan ide gilanya mbak, kenapa mbak Margie pengen banget hidup sebagai tukang cerita? lalu, apa pendapat mbak tentang zona nyaman? sudah pernahkah mbak merasakanya? jika sudah bagaimana cara keluar dari zona itu? satu lagi ya mbak..:D konsistesi, bagaimana cara menjaga kekonsistensian khusunya dalam hal menulis? makasih banyak:)
Margareta Astaman: Tukang cerita di mataku adalah sebuah profesi yang lebih bisa mempengaruhi orang. Semua orang suka dan sering terinspirasi oleh cerita. Mungkin ada banyak politikus, tapi hanya tukang cerita yang kebetulan jadi politikus yang bisa menggerakkan orang lain untuk menggunakan haknya demi kehidupan yang lebih baik. Zona nyaman aku definisikan sebagai momen di mana aku merasa senang dan puas akan apa yang saat itu sedang aku miliki dan jalani. Tidak pernah ingin keluar dari situ, tapi sayangnya harus selalu keluar! Aku pikir saat ingin meraih zona nyaman, kita melakukan segala cara, berusaha keras, mengambil risiko dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang lewat. Sifat yang sama yang juga akan mendorong kita untuk keluar dari zona nyaman itu pada akhirnya. Karena kita menolak untuk mengabaikan kesempatan baik yang membawa kita ke zona nyaman level berikutnya. Konsistensi, bisa dalam hal gaya penulisan, bisa dalam hal kerutinan menulis. Untuk gaya menulis, aku bilang, biarkan saja, berbeda-beda, terbuka terhadap segala gaya dan kemungkinan. Setelah beberapa saat, nantinya malah akan kita temukan sendiri gaya menulis yang paling terasa nyaman. Sedangkan dalam hal kerutinan, bisa disiasati dengan menjadikannya kebiasaan. Pertama-tama, mungkin harus memaksa diri meluangkan waktu beberapa saat untuk menulis. Tapi lama kelamaan, akan menjadi rutinitas yang jika tidak dilakukan, hidup terasa masih kurang!
Puji Prabowo: mba :) berapa persen masing-masing penggunaan logika dan perasaan dalam kegiatan mba margie menulis? buku favorit mba margie apa? kapan buku ketiganya keluar? thx :)
Margareta Astaman: Teori yang berusaha aku penuhi, isinya harus 100% logika, tapi ditulis dengan 100% perasaan. Artinya, poin-poin dalam isi tulisan, argumen yang dikemukakan, harus faktual, sebisa mungkin obyektif, bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan logis. Tapi saat menuangkannya, harus ada genuine interest terhadap topik, harus menekankan sudut pandang yang dipegang, dan harus dengan bahasa yang terasa nyaman buatku, sehingga isi yang faktual tadi tidak menjadi sekadar eksposisi semata, melainkan tulisan yang persuasif dan membantu membentuk opini pembaca. Buku favoritku sampai sekarang adalah buku anak kecil berjudul Le Petit Prince. Kisahnya sederhana, banyak gambarnya, hurufnya besar-besar, tapi maknanya sangat relevan bagi orang dewasa sekalipun.Aku salut dengan caranya "menyembunyikan" pesan yang besar dalam bentuk yang seringkali diremehkan orang (Cuma buku anak kecil). Justru dengan cara itu, pembaca jadi lebih mudah menerima pesan yang ditangkap tanpa ada kesan digurui. Buku ketiga,After Orchard, baru saja keluar, terima kasih banyak supportnya!
Fajarani Paramita Yosephine Nur Khoirunnisa: Salam kenal Mbak Margareta..=)..q Blogger pemula nih,Bercerita memang merupakan hal yang menyenangkan,dan blog menjadi media ekspresi yang seru untuk saling berbagi malalui tulisan,gambar,dan foto.. hanya kendala yang hampir sama mungkin dengan sebagian besar blogger diawal...yang masih belum memiliki ketahanan eksistensi yang kuat,hihi (terbukti blog member beswan masi sering g update)...adalah, sebenarnya bagaimana cara yang paling pas(tips) menurut Mbak Margareta untuk mendefinisikan, memberi warna untuk blog kita sendiri sesuai dengan cirikhas kita..lebih simpelnya menceritakan inilah "kita",masih sering nih bergonta-ganti isi cerita blog....sampai akhirnya banyak "kategori" di dalam satu blog.. ...lalu seperti apa pandangan Mbak Margareta tentang blog itu sendiri? Terima kasih sebelumnya..^^
Margareta Astaman: Punya banyak kategori dalam blog itu sah-sah saja kok. Namanya juga manusia, mana mungkin kita membatasi ketertarikan atau perhatian kita pada satu hal saja? Justru aku menganjurkan Fajarani untuk terus terbuka terhadap berbagai gaya dan topik blog. Ke-khas-an blog itu, nanti akan muncul dengan sendirinya. Jadi santai saja, dan terus rutin ngeblog. Setelah beberapa lama, baru coba kita lihat lagi, dari daftar tulisan yang sudah ada, apa topik yang paling sering muncul? Mana posting yang paling banyak mengundang diskusi/komentar pembaca? Info apa yang paling sering dicari?Apa kemiripan masing-masing post? Dari situ, baru kita mulai menentukan fokus, kira-kira 'identitas' si blog ini apa ya? Yang penting, yuk kita jadikan kebiasaan meluangkan dua jam saja setiap minggunya untuk menyempatkan diri mengumpulkan pikiran dan nge-blog. Kalau blog-nya rutin, waktu 'beberapa lama' yang aku sebut di atas, bisa menjadi jauh lebih singkat.
Argya Syambarkah: Blog have a sip of margarita sangat memabukkan mba, keren!! gmana tanggapan mba mengenai anggapan bahwa terkadang para blogger sulit untuk memberikan batas yang jelas antara kehidupan pribadi yang bisa di bagi dan yang tidak bisa dibagi? lalu menurut mba apakah batasan itu perlu ada? pengen banget tau pandangan mba soalnya terkadang kurang elok juga baca blog orang yang isinnya terlalu mellow, cinta-cinta namun sifatnya pribadi dan terkadang memasukkan unsur orang ketiga di blog. kalo begitu menganggu privasi orang jg kan. thx mba
Margareta Astaman: Blog memang biasanya berawal dari hal-hal pribadi. Tapi jelas ada sedikit bedanya blog dengan sebuah buku harian, yaitu, adanya pembaca! Maka setelah menulis dari inisiatif sendiri, akan hal-hal yang menarik untuk kita sendiri, penting sekali bagi blogger untuk mulai memikirkan pembacanya. Dalam hal ini, orang-orang yang terkait hal pribadi kita, bisa saja menjadi target pembaca kita. Seperti sedang ngobrol saja, kita perlu memikirkan, apa yang sekiranya akan menyinggung lawan bicara, apa yang sekiranya tidak pantas dibagi. Juga supaya blog kita jangan jadi buku harian internet saja, aku rasa penting untuk menanyakan "what's in it for the readers". Apa yang bisa diambil dari tulisan kita yang pribadi ini untuk pembaca? Bisa saja karena kita memberi informasi baru, atau merangkum pandangan dalam masyarakat, memberi perenungan yang membuat orang berefleksi, atau sekadar humor yang membuat orang tertawa. Jadi misalnya, sah-sah saja jika mau membagi cerita cinta mellow-yellow sinetronika, asal ceritanya bisa menghibur mereka yang juga patah hati, atau memberi informasi tentang apa sih efek psikologis patah hati, atau membuat mereka yang patah hati jadi memikirkan lagi makna perpatahan hati itu.
Basidl Syafi'i Abdul: Salam kenal mbak Retha.. karena saya pecinta sepak bola Indonesia, pertanyaan pembuka nih.. Apakah mbak Retha masih sodara dengan Ponaryo Astaman?? hehe.. Saya tertarik dgn awal mula mbak menulis dgn mengambil untung pada nenek dan tante mbak.. Dan bagaimana hal tsb bisa membuat mbak tertarik untuk menulis sampai sekarang? Bahkan tulisan mbak yg kritis sering mendapat perhatian dr negara lain.. banyak orang mengatakan bahwa menulis adalah bakat, bagaimana pendapat mbak tentang hal tsb? Makasih..salam beswan..
Margareta Astaman: Kalau aku TIDAK PERCAYA 100% kalau menulis itu adalah bakat! Buatku, setiap orang pasti bisa nulis (kalau tidak, mana bisa lulus SD?).Yang sering disalahartikan sebagai bakat adalah saat ada yang punya ketertarikan lebih pada dunia tulisan, lebih sering menulis sehingga akhirnya terbiasa melalui tahap-tahap penulisan. Akhirnya beberapa orang ini akan terlihat lebih cepat menulis dan idenya lebih mengalir. Selama kita punya ketertarikan untuk menulis dan sering melatih diri untuk menulis, 'bakat' itu bisa diciptakan. Untukku sendiri, kenyataan bahwa nenek dan tante dulu sering membeli tulisanku membuat aku jadi semangat menulis.Pertama karena tulisanku diapreasiasikan orang lain. Kedua karena ternyata, menulis itu bisa menghasilkan uang! Berarti menulis adalah sebuah profesi yang layak,seperti jadi dokter atau presiden.
Misbahul Ihsan: Salam hangat dariku.. ^_^ Hmm.. Jadi keinget sewaktu Silatnas Beswan Djarum di Semarang kemarin, Pemenang lomba Blog menerima hadiah dan dewan juri, yang salah satunya adalah Ibu Margareta.. Luar biasa, Country Editor utnuk MSN Indonesia, sebuah Jabatan yang sangat Luar Biasa.. Banyak yang mengangap Menulis adalah hal yang biasa, tapi kenyataanya itu tidak semudah seperti mengucapkanya.. Pertanyaan saya, bagaimana sih berusaha memaksimalkan segala yang ada untuk meraih apa yang kita impikan, salah satunya adalah hobi ataupun kesukaan kita, karena terkadang cita-cita kita terwujud berawal dari hobi ataupun kesukaan kita? Saya yakin Ibu Margaret meraih semua ini juga berawal dari Suka,kemuadian menjadi hobi hingga berkemang menjadi seperti saat ini. Cukup itu saja pertanyaan dari saya , mohon jawabannya , Terima Kasih.. ^_^
Margareta Astaman: Setuju sekali. Sekecil apapun, seremeh apapun sebuah hobi, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati pasti hasilnya akan baik. Orang yang kegemarannya cuma ngutak-ngatik Facebook saja bisa aja dipanggil untuk mengurus akun Facebook perusahaan ternama. Bagiku yang terutama adalah kita sendiri jangan ikut-ikutan memandang remeh hobi kita itu, sehingga kita juga bisa memberi fokus dan segenap perhatian dalam mengerjakannya. Masa sih ada sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, hasilnya bisa tidak luar biasa?
Bukhori Andri Ardiyanto: mw kiat kiat buat kita seneng nulis dunks....... pertama kali pengen banget nulis di blog ato semacamnya cuman saat kita lg nulis selalu saja berhenti ditengah jalan.... musti gak dpt tulisan apa yg kita pengen padahal sebenernya di dlm otak uda ada pikiran buat nulis.... tp sulit bgt dituangkan... bisa kasi solusi mba Margareta Astaman??? siapa tw dengan tips mb bisa buat ak tdk kesulitan lg kalau mw nulis.........
Margareta Astaman: Gimana kalau proses menulis itu kita bagi-bagi dulu ke dalam beberapa tahap? Sebelum kita mulai mengetik, yuk kita brainstorming! Brainstormingnya tidak perlu dengan orang lain. Cukup kita sendiri yang mulai mengumpulkan poin-poin yang mau dituangkan. Bentuknya terserah., Bisa bentuk awan-awan, coret-coretan di laptop, kertas tissue atau dalam pikiran saja. Setelah itu, kita buat strukturnya,. Bagaimana satu pemikiran ke pemikiran yang lain dihubungkan. Mana memperkuat argumen yang mana. Jadi sebenarnya tulisan itu sudah 'jadi' meski belum dalam bentuk tulisan. Pada saat menulis, kita tinggal menuangkan brainstorming yang sudah terstruktur dan tercatat itu ke dalam bentuk tulisan yang lengkap. Kemungkinan ide hilang saat menulis atau tulisan berkembang di luar yang diingkan jadi jauh lebih kecil.
Theda Renanita: hai mbak Margareta..Aku pny bbrp pertanyaan u/ mu. bagi sebagian besar orang, menulis adl kegiatan yg kurang disukai bahkan bisa jd seperti momok. tak sedikit pula orang yg enggan menulis karena takut dikritik. nah apa sih yg menjadi dorongan bagi mbak u/ menulis dan bagaimana mbak mengelola semangat mbak terutama saat tulisan mbak dikritik oleh banyak org? mnrt saya, menulis membutuhkan kepekaan lingkungan. nah bgmn mbak mengasah kepekaan lingkungan n sosial mbak? makasi yah ^^
Margareta Astaman: Alasan pertamaku menulis adalah karena aku suka ngomong dan komentar dan ingin mengungkapkan komentarku itu. Jadi entah dibaca entah nantinya dikritik, yang penting tulisan itu sudah memenuhi tujuan utamanya: sebagai mediaku berekspresi. Ketika dikritik, biasanya aku akan membaca berulang-ulang kritik itu, agar sebisanya tidak salah tangkap. Lalu jika dari kritik itu ada yang tidak aku setujui, bukannya berhenti, aku malah akan kembali menulis untuk meluruskan maksud yang mungkin salah paham itu. Bagiku mengasah kepekaan sosial itu bisa dilakukan semua orang, selama ada kemauan. Yaitu kemauan untuk bergaul, mendengarkan orang lain, dan not taking mundane scenes for granted. Segala hal, sebiasa apapun, bisa kita amati dan kita pikirkan sebagai sesuatu yang spesial, sehingga mudah-mudahan kita bisa melihatnya sisi istimewa hidup sehari-hari itu.


