ketika elit-elit politik telah dijejali oleh pelacur-pelacur materialis-korup,,
yang libido kerakusan mereka telah terangsang oleh uang,,
yang telah menelanjangi kehormatan,,
bercinta dengan kebodohan,,
bercumbu dengan kemunafikan,,
dan bersenggama dengan kedzoliman,,
maka kita di sini,, hari ini,,
mengoarkan pekikan arek-arek jawa timur untuk mengaborsi kejalangan mereka,,
karena kita adalah trombosit keadilan,,
karena kita adalah hormon kebenaran…

Sebuah realita bahwa bangsa ini sedang mengalami keterpurukan dan terjerembap dalam lubang kenistaan berbagai krisis. Secara temporer, beberapa dari tumpukan masalah itu adalah skandal bank Century dan kriminalisasi KPK, yang berbenang merah kepada hak-hak rakyat dan beresonansi pada masa depan bangsa. Mungkin itulah api yang menyulut reaksi keras mereka hingga merasa wajib untuk turun ke jalan menyuarakan kebenaran. Meski mereka sadar, aksi mereka tidak akan berdampak langsung dan signifikan pada polemik bangsa ini, karena mahasiswa hanyalah puingan kecil bagian dari berbagai entitas pembangun bangsa. Sementara masih banyak organ-organ yang harus mereka bangkitkan, sedangkan tangan mereka juga tidak cukup panjang untuk menjamah hati para elit negeri. Maka mereka mengambil posisi sebagai penggerak dan stimulus. Berpanas-panas ria, berbusana dalam basahan hujan, berteriak dendangkan mimpi-mimpi hingga habiskan keringat dari tubuh, hanya untuk mendesak anasir-anasir elit yang bersangkutan serta menggugah para pengguna jalan dan rakyat yang menjadi saksi yang melihat perjuangan mereka melalui berbagai media. Mereka berdiri tegar dalam sebuah pengharapan agar akumulasi dari desakan-desakan itu bisa membersihkan kotoran-kotoran di telinga para aristokrat dan membangunkan para jelata yang lama tertidur pulas. Semua itu karena secercah harapan mereka yang tak pernah surut sebagaimana panji-panji mereka yang tak luntur diguyur hujan dan warna merah pada sangsaka yang mereka kibarkan tidak pudar didera terik mentari.
Mahasiswa adalah sosok yang tidak hanya mewakili sisi kepemudaan –yang mencakup keberanian, ketangkasan dan semangat juang–, tapi juga intelektualitas. Mahasiswa dengan intelektualitasnya tentu memiliki potensi dan kapabilitas sebagai pengemban perubahan, sebagaimana kejayaan Indonesia yang tidak hanya tertoreh oleh merahnya darah para mujahid kemerdekaan, tapi juga hitamnya pena para intelektual. Dari masa ke masa, pemuda memang berperan sebagai turbin penggerak persada Indonesia dan selalu menjadi garda depan dalam setiap perubahan. Mereka adalah infanteri rakyat yang berbelati keberanian, bertameng ketangguhan, bersenapan kesolidan dengan peluru kebenaran. Dahulu, dengan semangat juang merekah, barisan pemuda mampu mengembalikan kesucian tanah air dari noktah penjajahan fisik para kolonialis.
Tapi sekarang bukan saatnya lagi mengenang masa lalu, bukan masanya lagi mendongeng tentang idealitas. Kini saatnya kita bicara tentang realitas era ini. Dari perguliran waktu, musuh itu bukan hanya dari luar, melainkan telah tumbuh dan tersebar menjadi parasit-parasit yang berakar di tubuh sendiri. Lihat saja, banyak hal-hal paradoksal yang menggelayut di dunia mahasiswa. Ketika suatu saat mereka turun ke jalan-jalan bergelut dengan debu-debu jalan dan panasnya trotoar, di saat dan di tempat lain, fenomena-fenomena memprihatinkan yang sangat mencengangkan tidak bisa dinegasi. Fenomena-fenomena busuk itu seperti mahasiswa yang titip absen dalam perkuliahan, plagiat dalam membuat makalah, hingga epigon dalam pengerjaan skripsi. Ulah mereka tidak beda jauh dengan yang mereka olok saat demonstrasi. Keadaan juga diperparah dengan adanya berbagai kelompok ‘mahasiswa’ yang menjajakan idealismenya untuk kepentingan-kepentingan politik praktis maupun kepada kepentingan borjuis tertentu demi keuntungan pragmatis yang hal ini tentunya memandulkan independensi mahasiswa. Tidak hanya itu, bahkan pihak birokrat kampus telah menciptakan atmosfer korosif seperti adanya SKP (Satuan Kredit Prestasi) yang hanya cantik di tataran konsepsi, namun pada implementasinya justru tak lebih hanya menjadi alat kontra-produktif yang melahirkan disorientasi dan deteriorasi mahasiswa serta mengkebiri habis organisasi kemahasiswaan. Jika kita menilik ke persinggungan antara masa lalu dan masa kini, sesungguhnya formulasi seperti inilah yang mewarisi jiwa ke-koruptor-an dan menelurkan para pengawal kerusakan negeri. Dalam konteks ini, kampus tidak lebih hanya sebagai pengeram embrio generasi hipokritis.
Sementara itu, ada juga jenis ‘mahasiswa’ lain yang paradigmanya terinvasi oleh borok hedonisme dan materialisme, yang kesibukan hariannya hanya kuliah–belajar–pulang dengan sedikit kegiatan ekstra seperti shopping, nge-band, dugem, dan lain-lain. Sebenarnya sebagian kegiatan mereka memang bermanfaat, tapi kemanfaatan itu mereka ciderai sendiri dengan parokialisme yang mengesampingkan dimensi-dimensi sosial kemasyarakatan. Sepertinya, ‘mahasiswa’ model ini tersebar rata dan mendominasi hampir di setiap kampus di pelosok negeri. ‘Mahasiswa’ yang terkena virus anomi ini jika ditanya tentang cita-citanya akan menjawab tegas, ingin mensukseskan dirinya, bukan menyuburkan negerinya.
Poros cakrawala bangsa bernama mahasiswa itu kini kian rapuh. Namun sungguh tidak layak menggunakan logika generalisasi dalam memandang mereka. Masih ada segelintir mahasiswa yang masih teguh dalam mencengkeram idealismenya. Mereka sadar bahwa integritas adalah absurd tanpa integrasi, sehingga berusaha untuk memenuhi kewajiban dan kebutuhan di segala aspek lini kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara secara seimbang dan terpadu. Mereka sadar akan eksistensi dirinya bukan untuk mendapat kedudukan, materi, popularitas dan egomania atas kesuksesan pribadi, sehingga berusaha mencapai segala cita-cita pribadinya namun tetap kontributif bagi kebangkitan negerinya. Mereka giat mengikuti pembelajaran akademis, namun juga getol mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi; menghidupkan organisasi kemahasiswaan dengan kegiatan-kegiatan didaktis-progresif, sehingga organisasi mereka bukan sekedar sebagai event organizer; sadar bahwa lingkungan mereka bukan hanya dunia kampus, namun bumi Indonesia, sehingga peduli dengan wacana nasional yang berhubungan dengan kerakyatan namun tetap independen; tahu persis kapan harus mengkaji wacana, kapan harus melakukan branstorming dan kapan harus turun ke jalan; tidak terkekang oleh arus deras yang cenderung dimanipulasi oleh anasir kepentingan pragmatis dan dipenuhi kendali konspirasi, namun justru menentukan arah arus dan merekayasanya demi perubahan ke arah kebaikan. Sayangnya, mahasiswa model ini sudah sangat langka di hamparan Indonesia.
Mahasiswa adalah pion yang terimplikasi dalam percaturan peradaban Indonesia yang mengawal setiap perubahan dan akan terus menjadi determinan masa depan bangsa. Di pundak mereka terpancang harapan besar. Tapi saat ini, sepertinya taring ‘sang singa’ itu tak lagi mampu mengkoyak prahara instabilitas negeri ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada mahasiswa Indonesia? Di saat berbagai krisis menyeruak, di mana mereka bersembunyi? Bagaimana rakyat bisa bangun jika ‘energi yang membangunkan’ itu sendiri tertidur? Kini sudah saatnya merevitalisasi peran mahasiswa sebagai barisan yang concern terhadap stagnasi dan degradasi, sehingga bergairah penuh dalam berkontribusi demi transformasi bangsa.


