Pergeseran pengelolaan energi dunia saat ini dari sisi penawaran ke sisi permintaan dan adanya komitmen internasional untuk mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2) membuat peran Bahan Bakar Nabati (BBN) menjadi penting. Bahan Bakar Nabati (BBN) adalah bahan bakar dari sumber hayati. Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA) diprediksi bahwa pada tahun 2050 BBN dapat menurunkan kebutuhan bahan bakar minyak bumi sebanyak 20- 40% (Azahari, 2008).
Indonesia berpeluang menjadi Raja BBN Dunia. Indonesia adalah negara tropis, sehingga hampir keseluruhan jenis tanaman penghasil minyak nabati dapat tumbuh dengan cepat. Raja BBN Dunia adalah negara dengan kepemilikan kapasitas dan kualitas produksi BBN tertinggi dibandingkan negara- negara lain.
Namun, sayangnya potensi Indonesia sebagai Raja BBN Dunia belum dioptimalkan dengan baik. Hal ini diindikasikan dengan negara produsen terbesar biodiesel saat ini adalah Uni Eropa sebesar 4, 5 juta ton/ tahun dengan bahan baku utama rapeseed berbiaya produksi lebih tinggi dibandingkan Indonesia, sedangkan negara produsen bioetanol terbesar adalah Amerika Serikat dengan produksi 18, 5 miliar liter berbahan baku jagung dan kedelai (Azahari, 2008). Bahkan, pengembangan BBN di Indonesia, khususnya biodiesel dari kelapa sawit dinilai buruk akibat menghasilkan energi lebih rendah dan menyumbang emisi karbon secara tidak langsung melalui pembakaran hutan dan konversi hutan untuk lahan tanam (http://www.guardian.co.uk).
Berbagai kebijakan terkait pengembangan BBN serta keanekaragaman jenis BBN yang dikembangkan di Indonesia (biodiesel, bioetanol, biooil, dan biogas) mengindikasikan pengembangan BBN di Indonesia belum menjadi sesuatu yang utama, walaupun telah menjadi agenda penting untuk menciptakan keamanan energi di Indonesia.
Penentuan skala prioritas pengembangan adalah hal mutlak untuk berhasil menjadi Raja BBN Dunia. Keanekaragaman jenis BBN tentu membuat ketidakjelasan tujuan dalam fokus perhatian pemerintah. Potensi Indonesia sebagai Raja BBN Dunia diprioritaskan pada pengembangan biodiesel (pengganti solar) dan bioetanol (pengganti bensin). Biodiesel dan bioetanol dipilih karena kebutuhan energi transportasi Indonesia didominasi oleh minyak solar dan premium, kekayaan alam Indonesia yang melimpah sebagai bahan baku, dan insentif pembiayaan yang terbatas.
Strategi adalah tindakan yang diambil untuk mencapai satu atau lebih tujuan. Strategi dibutuhkan untuk tetap dapat bertahan. Untuk mengoptimalkan potensi Indonesia, maka cara pengembangan dan penggunaan BBN di negara- negara lain diperlukan. Konsistensi implementansi kebijakan hukum dan ekonomi terutama sisi fiskal ternyata lebih mendominasi pengembangan BBN di beberapa negara.
Strategi optimalisasi potensi Indonesia sebagai Raja BBN Dunia meliputi aspek riset bioteknologi, infrastruktur, ekonomi, hukum, dan sosial. Strategi pertama adalah aspek riset bioteknologi. Indonesia perlu memberlakukan pengalihan subsidi bahan bakar fosil ke sektor pengembangan BBN terutama riset bioteknologi dan infrastruktur. Dalam struktur biaya produksi BBN, pengeluaran untuk bahan baku adalah terbesar, sehingga riset bioteknologi yang gencar dapat diketahui varietas unggul sebagai bahan baku BBN. Riset bioteknologi pertama adalah identifikasi cara pengembangan alga sebagai bahan baku biodiesel. Indonesia sebagai negara dengan garis pantai tropis terpanjang di dunia sepanjang > 81.000 km (Jakti, 2004) dan produktivitas alga yang jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya patut menjadi salah satu aspek riset utama. Jenis riset kedua adalah biobutanol sebagai generasi kedua BBN berbahan baku non pangan dan limbah untuk menjamin kesinambungan pengembangan dan produksi massal BBN di masa depan.
Strategi kedua adalah dukungan infrastruktur. Dukungan infrastruktur meliputi akses dari petani ke industri pengembangan BBN dan pasar. Dengan demikian, hal ini berdampak pada kegairahan pasar domestik dan mendorong berkurangnya kesenjangan pola pertumbuhan ekonomi antara sektor jasa (non-tradable) dan sektor penghasil barang (tradable) di Indonesia.
Strategi ketiga adalah aspek ekonomi melalui pemberlakuan kebijakan yang bertumpu pada permintaan dan penawaran dengan prioritas utama adalah penciptaan pasar domestik. Potensi Indonesia sebagai Raja BBN Dunia dapat dioptimalkan melalui diversifikasi sumber BBN dengan pencampuran (mixing) beberapa sumber BBN. Hal ini mengingat kekayaan alam Indonesia yang melimpah dan menjaga sisi keekonomisan BBN. Namun, belum adanya harga patokan BBN di Indonesia jelas berakibat ketidakpastian mengembangkan usaha. Biodiesel dari kelapa sawit Indonesia yang sudah mencapai skala komersial sebaiknya dilakukan dengan komposisi penanaman kelapa sawit hanya 5- 10% dari luas lahan. Hal ini untuk menjaga plasma nutfah dan peluang Indonesia untuk menjadi kreditor karbon dalam perdagangan karbon dunia.
Strategi keempat adalah aspek hukum. Adanya pengaturan insentif bagi SPBU sebagai infrastruktur, fiskal berupa pengurangan pajak pada pemakaian kendaraan hemat bahan bakar, dan industri terkait perlu dilakukan. Regulasi baru dapat berupa penetapan kewajiban pemakaian BBN pada seluruh kendaraan, kemudahan nasabah memperoleh akses kredit bagi pengembangan BBN, dan regulasi perdagangan. Selain itu, pengawasan terhadap implementasi peraturan tentang Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) patut dipertahankan untuk menjaga kelestarian hutan.
Strategi kelima adalah aspek sosial. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat adalah komponen penting agar masyarakat beralih mengembangkan dan menggunakan BBN. Perubahan paradigma bahwa pengembangan BBN bukan sekadar sebagai energi alternatif melainkan sebagai solusi dan investasi penting untuk disosialisasikan. Untuk mewujudkan Indonesia sebagai Raja BBN Dunia namun tetap menjamin kelestarian lingkungan, dukungan seluruh elemen masyarakat yang berpartisipasi penuh dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan lingkungan diperlukan.
Dengan adanya optimalisasi potensi Indonesia sebagai Raja BBN Dunia, peluang bagi pencapaian kemandirian di sektor energi dan peningkatan pendapatan nasional Indonesia pun semakin terbuka. Jadi, peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia menjadi kenyataan. Hal ini tentu menjadi harapan kita semua.


