Berita Terkini
10 May 2012 — More Details
'Cherybelle' beraksi di yel-yel RTC Padang
Artikel Terkini
21 Dec 2011 — More Details
Budi Putra: Jurnalis yang Beralih Menjadi Blogger
ARTIKEL & BERITA
ARTIKEL
 

Shared Picture Book Reading sebagai Interaksi Extra Text Orang Tua dan Anak dalam Perkembangan Bahasa Usia Dini


Anak-anak merupakan sumber daya manusia calon pemimpin masa depan yang memiliki peran penting bagi kemajuan negara Indonesia. Dunia mereka adalah lautan pembelajaran yang sangat luas, meliputi dunia bahasa, visual, etika, kecerdasan intelektual, seni, dan masih banyak lagi. Menjadi suatu kewajiban bagi negara dan orang tua untuk memberikan pendidikan baik secara formal dan non-formal terhadap anak.

Pada anak usia pra sekolah, perkembangan bahasa menjadi hal yang sangat penting sebagai indikasi kemampuan verbal yang nantinya berkorelasi dengan daya intelegensi anak pada masa sekolah dasar dan lanjutan. Hal ini diperkuat oleh data Unicef yang menunjukkan, bahwa hampir 70 persen anak yang putus sekolah dari Sekolah Dasar (SD) karena mereka tidak siap untuk berinteraksi dan mengikuti pendidikan SD (Amaliafitri, 2009). Ketidaksiapan interaksi tersebut dikarenakan anak kurang menguasai kemampuan literasi menyeluruh diantaranya berbicara, membaca, dan menulis secara bersamaan yang disebabkan rendahnya penguasaan kosa kata yang teramat banyak jumlahnya. 

Tujuan penulisan karya tulis ini antara lain memberikan gambaran pentingnya masukan bahasa secara efektif dan menyeluruh baik dari segi kualitas dan kuantitas pada anak usia dini. Menganalisa faktor lingkungan sosial keluarga serta peran pentingnya bagi input bahasa terhadap anak usia pra sekolah.

Pada usia 2-4 tahun atau disebut golden age, anak mengalami perkembangan emas pada segala bidang terutama perkembangan kebahasaannya. Pada masa ini, anak akan mengalami words spurt atau ledakan kata sebagai bentuk kematangan organ berbicara mereka sekaligus bentuk pemahaman dasar mengenai kosa kata (Clark, 2003). Pada masa ini, kemampuan kebahasaan anak haruslah terus dikembangkan dengan memberikan masukan dan rangsangan bahasa secara menyeluruh baik kualitas dan kuantitasnya.

Untuk menunjang pendidikan pra sekolah, pemerintah telah menggalakkan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan program belajar dan bermain. Namun berdasarkan data Depdiknas, hingga akhir 2008, angka paartisipasi kasar PAUD baru sekitar 50-53% dari 29,8 juta anak. Artinya, separuh dari jumlah anak usia dini yang ada di negeri ini belum meraih layanan pendidikan. Ini menunjukkan bahwa secara operasional, PAUD masih belum bisa dijangkau secara menyeluruh.

Oleh karena itu selain melalui PAUD, pendidikan verbal pada anak paling sederhana hendaklah dimulai dari keluarga sebagai lingkungan sosial yang pertama. Menurut teori interaksi sosial, tahap pembelajaran bahasa pada anak dibagi menjadi 3 fase yaitu masukan/input, proses, dan hasil/output. Anak mengenal bahasa pertamanya dari interaksi sosial dengan orang tua, maka orang tua hendaklah menjadi fasilitator bahasa yang lebih dominan.

Selama ini secara kualitatif percakapan sehari-hari antara orang tua dan anak berlangsung dalam kalimat yang sederhana dan intonasi yang cenderung datar (Clark, 2003). Sementara itu, secara kuantitatif, mengenai jumlah kosa kata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari adalah leksikon dasar, yakni kosa kata yang terdiri dari lebih kurang lima ribu kata. Leksikon dasar ini hanyalah sebagian dari leksikon umum yang berjumlah lebih kurang sepuluh ribu kata. Selain sepuluh ribu kata umum ini, terdapat ribuan kata lain yang sangat jarang digunakan tetapi memainkan peran penting dan kritikal dalam membaca.

Konsep masukan bahasa secara efektif dan menyeluruh baik dari segi kualitas dan kuantitas adalah dengan memanfaatkan peran orang tua atau orang dewasa lainnya didukung dengan perkembangan lingkungan literasi di rumah. Membaca bersama antara orang tua dengan anak dengan media buku cerita bergambar, dapat menghasilkan interaksi ekstra teks sebgai upaya input bahasa.

Tidak seperti di Barat, kegiatan ini memang sangat sederhana, namun masih kurang menjadi kebiasaan bagi masyarakat kita. Membaca dinilai sangat membosankan, namun sangat bermanfaat apabila dilakukan bersama anak dan orang tua menggunakan media buku cerita bergambar. Dalam situasi ini ternyata ditemukan suatu fenomena interaksi ekstra teks yang secara kualitas maupun kuantitas sangat efektif bagi pemerolehan kosa kata anak.

Dari segi kualitas, anak secara langsung akan memperhatikan orang tua yang akan membaca bersama mereka dan fokus keduanya akan lebih terpusat pada kegiatan yang dilakukan. Secara kuantitatif dari segi orang tua, ditemukan proses penamaan objek, pengumpanbalikan, pengulangan kata-kata baru, elaborasi dalam membangun cerita, mengaitkan cerita dengan kehidupan nyata, menuangkan nilai moral, dan memberikan informasi, dapat menambah kosa kata. Kesempatan bertanya yang diberikan orang tua juga sangat berguna untuk mengasah ketajaman daya tangkap dan mengembangkan sikap kritis anak terhadap cerita yang diberikan.

Dari upaya input bahasa tersebut yang apabila dilakukan terus menerus, anak diharapkan akan memperoleh banyak kosa kata yang jarang digunakan dan tentunya sangat mambantu mereka pada pembelajaran formal serta membentuk pola fakir kritis saat sekolah tiba.