Demam tifoid masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit menular akibat infeksi Salmonella typhi. Salmonella typhi termasuk famili Enterobacteriaceae (kuman enterik batang gram negatif) dan bersifat anaerob fakultatif atau aerob, tidak berspora, intraseluler fakultatif. Respon imun yang paling penting terhadap infeksi bakteri intraseluler adalah respon imun seluler yang tergantung pada limfosit T dan makrofag yang diaktifkan. Sel-sel yang sangat berperan dalam respon imun seluler adalah sel polimorfonuklear, sel makrofag, sel natural killer (sel NK), sel killer (sel K), dan sel T.
Pada respon imun seluler terdapat dua tipe reaksi yang saling melengkapi, yaitu:
- Reaksi fagosit oleh makrofag yang diproduksi sel limfosit T
Bakteri intrasel akan difagosit oleh makrofag. - Pelisisan sel yang terinfeksi
Jika bakteri dapat bertahan pada sel dan melepaskan Ag ke sitoplasma, Ag tersebut akan menstimulasi sel TCD8+. Sel TCD8+ menghasilkan IFNγ dalam mengaktivasi makrofag dan memproduksi oksigen reaktif serta enzim. Dalam hal ini bekerjasama dengan sel NK untuk membunuh bakteri melalui pelisisan sel yang terinfeksi.
Makrofag merupakan sel fagosit mononuklear yang utama di jaringan dalam proses fagositosis terhadap mikroorganisme dan kompleks molekul asing lainnya. Makrofag sebagai sel fagosit mampu membunuh kuman melalui dua mekanisme:
(1) Proses oksidatif (oxygen dependent mechanisms)
Proses oksidatif yang terjadi berupa peningkatan penggunaan oksigen, peningkatan proses Hexose Monophosphate Shunt (HMPS), peningkatan produksi hydrogen peroxide (H2O2), dan produksi beberapa senyawa seperti superoxide anion, hydroxyl radicals, single oxygen, myeloperoxidase yang dapat saling bereaksi diantaranya: Enzymatic generation of superoxide anion, Spontaneous generation of single oxygen and hydroxyl radicals dan Enzymatic generation of halogening compound; reaksi-reaksi ini menghasilkan metabolit oksigen yang toksik sehingga dapat digunakan untuk membunuh kuman.
(2) Proses non oksidatif (oxygen independent mechanism)
Proses non oksidatif berlangsung dengan bantuan berbagai protein seperti hydrolytic enzyme, defensins (cationic protein), lysozyme, lactoferrin dan nitric oxide synthase (NOS). Pada aktivitas nitric oxide synthase (NOS) diperlukan bantuan IFNγ dan TNFα tipe I yang dapat meningkatkan produksi NO dari makrofag di organ limfe.
Proses fagositosis oleh makrofag berlangsung dalam 5 fase yaitu:
1. Kemotaksis (leukosit pmn dan monosit)
2. Adhesi (partikel diselimuti opsonin)
3. Ingesti (penelanan)
4. Degranulasi (fusi fagosom dan lisosom)
5. Pembunuhan
Hasil akhir proses fagositosis dapat berbentuk:
(1) Degradasi sebagian besar atau seluruh partikel asing atau mikroorganisme.
(2) Partikel atau mikroorganisme yang resisten terhadap degradasi akan ikut beredar ”berkendaraan” fagosit yang melahapnya.
(3) Tetap tinggal dalam sitoplasma tanpa merugikan atau membunuh fagosit.
Pada penggunaan senyawa oxygen independent oleh makrofag akan dihasilkan nitrit oksida (NO) yang berperan pada pembunuhan bakteri intraseluser. NO juga mempunyai fungsi lain dalam imunitas alamiah dan adaptif yaitu memodulasi respon sitokin limfosit dan mengatur apoptosis sel imun yang terinfeksi.
Salah satu tanaman yang mempunyai efek anti mikroba terhadap Salmonella typhi adalah Syzygium polyanthum (daun salam), yang mengandung senyawa minyak atsiri (sitral dan eugenol), tannin, dan flavonoid. Mekanisme yang ditimbulkan Syzygium polyanthum terhadap infeksi Salmonella typhi adalah sebagai anti bakteri dan meningkatkan fagositosis.
Minyak atsiri menyebabkan denaturasi protein dinding sel kuman. Sekuisterpenoid dalam minyak atsiri juga menyebabkan kerusakan membran sel kuman olah senyawa lipofilik. Tannin menyebabkan denaturasi protein, menginaktifkan adhesin kuman, menstimulasi sel-sel fagosit yang berperan dalam respon imun selular.
Eugenol adalah sebuah senyawa kimia aromatik, berbau, banyak didapat dari butir cengkeh, sedikit larut dalam air dan larut pada pelarut organik. Flavonoid berfungsi sebagai anti inflamasi, anti alergi dan aktifitas anti kankernya serta antioksidan. Flavonoid yang bersifat lipofillik membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler, dan dengan dinding sel kuman, serta merusak membran sel kuman.
Mekanisme yang ditimbulkan Syzygium polyanthum terhadap infeksi Salmonella typhi adalah sebagai anti bakteri dan meningkatkan fagosit. Dengan efek imunomodulasi yang terdapat pada Syzygium polyanthum, maka tanaman ini dapat meningkatkan produksi makrofag, yang kemudian juga meningkatkan produksi NO, sehingga daya fagositosis terhadap bakteri intra seluler bertambah. Oleh sebab itu Syzygium polyanthum dapat digunakan untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap infeksi bakteri patogen fakultatif intraseluler, salah satunya adalah Salmonella typhi.


