Berita Terkini
10 May 2012 — More Details
'Cherybelle' beraksi di yel-yel RTC Padang
Artikel Terkini
21 Dec 2011 — More Details
Budi Putra: Jurnalis yang Beralih Menjadi Blogger
ARTIKEL & BERITA
ARTIKEL
 

Mimpi yang Menjadi Kenyataan


Maret 2010 lalu Beswan Djarum diundang untuk menghadiri sebuah pertemuan yang membahas tentang peluang bagi mahasiswa untuk bisa berkompetesi dikancah dunia. Mereka berkumpul di Ruang Merbabu lantai 3 Kantor Djarum Semarang. Dalam acara tersebut dihadiri Bapak Suwarno M. Serad selaku Public Affair PT Djarum, Bapak Pasya Andhika selaku Pembina Beswan Djarum Region Semarang dan beberapa rekan mahasiswa yang bukan Beswan Djarum. Beberapa dari mereka berasal dari Tim Debat Universitas Diponegoro yang mengikuti Harvard National Model United Nation (HNMUN) 2010 di Harvard University, Boston, Amerika Serikat.

Dalam acara tersebut, Buna Rizal sebagai perwakilan delegasi HNMUN 2010 berbagi pengalaman dan memberikan informasi mengenai ajang bergengsi tingkat dunia tersebut. HNMUN ini sangat prestisius dan patut untuk diikuti, karena HNMUN merupakan Model Simulasi Sidang PBB yang tertua, paling bergengsi dan pertama diadakan di dunia, walaupun saat ini banyak universitas lain di dunia yang telah mencoba membuat ajang serupa tetapi belum mampu menyaingi model simulasi yang diadakan HNMUN.

Hal tersebut yang menggugah Nestin Evrina untuk mengikuti HNMUN 2011. Ia pun pun mulai mencari informasi tentang HNMUN melalui internet dan bertanya kepada delegasi-delegasi yang pernah mengikuti ajang serupa. Untuk HNMUN 2011 hanya diikuti oleh dua universitas yakni Unversitas Diponegoro (UNDIP) dan Universitas Gajah Mada (UGM). Momen ini langsung ia manfaatkan untuk mendaftar sebagai calon peserta seleksi HNMUN 2011. Beberapa tahap seleksi pun diterapkan untuk bisa mengikuti ajang ini.

Seleksi tahap pertama adalah seleksi administrasi, mulai dari IPK minimal 3,0, memiliki pengalaman organisasi, toefl score minimal 500,mampu secara aktif dan pasif berbahasa Inggris. Semua berkas yang dibutuhkan pun segera dilengkapi dan diserahkan ke Rektorat UNDIP. Tidak disangka, saat menyerahkan persyaratan Nesti bertemu dengan rekan Beswan Djarum seangkatannya yang bernama Andreas Adrianto dari Fakultas Ekonomi. Perasaan senang pun menghampiri karena merasa mendapat teman seperjuangan. Dua minggu usai menyerahkan persyaratan kini tiba saatnya melihat pengumuman tahap pertama. Nama Nestin dan Andreas pun masuk dari 60 mahasiswa yang lolos pada tahap ini.

Seleksi berikutnya adalah tes tertulis dan wawancara. Ada 3 ruangan yang harus dilalui peserta seleksi. Setiap ruangan terdiri dari 3 orang pewawancara dimana mereka akan menguji kemampuan organisasi dilihat dari pengalaman organisasi yang dimilki, kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas dan efektif menggunakan bahasa inggris aktif dan menggali wawasan mengenai isu global dan nasional yang terjadi saat ini. Pewawancara terdiri dari kalangan Doktor, pengajar Lembaga Bahasa Inggris, dan alumni HNMUN 2010.

Dalam tahap ini, ada 3 studi kasus yang ditawarkan dan peserta dapat memilih salah satu diantara ketiga kasus tersebut untuk membuat sebuah draft resolusi yang terdiri dari kurang lebih 500-600 kata. Seminggu usai tes terlutis dan wawancara, hasil pun diumumkan melalui situs resmi UNDIP. Sebanyak 25 mahasiswa lolos, termasuk Nestin dan Andreas. Tidak berhenti sampai disitu, ke-25 peserta yang lolos kembali mengikuti tahap selanjutnya dimana mereka diharuskan mengikuti training intensive yang terdiri dari tujuh kali pertemuan. Pada tahap ini, 15 peserta dengan nilai tertinggi berhak lolos mewakili UNDIP di ajang HNMUN 2011 dan Nestin salah satu peserta yang lolos tersebut.

Hal serupa juga dirasakan Beswan Djarum lainnya bernama "Obet", yang berhasil menuju Boston bersama teman-teman dari Universitas Negeri Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Bersama peserta HNMUN lainnya seperti Ressy Dewi Yuliana (Akuntansi 2007), Alpinia Fitri Amar (FKIK 2007), Hilma Nur Aini, Arianto Wibowo (IESP 2007), Danar Satria Nugraha (Akuntansi 2008), serta Robaitur Rasyid (Sastra Inggris 2008), mereka banyak melalui banyak rintangan.

Mulai dari sulitnya proses pengajuan proposal kepada pihak kampus hingga tidak adanya anggaran dari pihak universitas untuk membiayai kegiatan mereka. Untuk mengikuti HNMUN 2011 tidak ada instansi yang membiayai, mau tidak mau mereka bekerja keras untuk mencari sponsor. Semangat itu terus berkobar meski penolakan demi penolakan dialami. Harapan itu pun semakin jelas terlihat, beberapa instansi bersedia menjadi sponsor mereka. Sebut saja maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Bank BTN, Aneka Tambang, Molindo, Diknas, Pengusaha asal Purwokerto (Bapak Wisnu Suhardono) dan tentunya Djarum Foundation yang selalu concern untuk membangun pendidikan Indonesia.

Selain disibukkan dengan pencarian dana, mereka juga harus berusaha keras untuk membuat paper dan country preference yang akan dijadikan konsederasi panitia untuk menentukan Negara mana yang akan direpresentasikan karena setiap delegates tidak bisa mewakili negaranya sendiri. Selang beberapa waktu akhirnya Acceptance Letter dari panitia HNMUN pun keluar yang artinya mereka telah resmi terdaftar sebagai peserta HNMUN 2011 dan mewakili Papua New Guinea.

Susunan delegasi pun segera dibuat, Ressy Dewi Yuliana dan Hilma Nur Aini akan berperan di Komite Legal sementara Alpinia Fitri Amar berperan di Komite Historical. Robaitur Rasyid bersama Aryanto Wibowo berperan dikomite WHO untuk membahas masalah kesehatan, sedangkan Danar Setia Nugraha berperan di Komite Ekonomi. Karena faktor waktu dan efektifitas kerja, berdasarkan kesepakatan bersama maka diadakan pergantian personal, dan posisi Danar digantikan oleh M Aditya Iranda.

"Ini adalah mimpi besar kami yang akan segera menjadi nyata. Tuhan telah melihat keyakinan yang kami atas mimpi ini. Selama proses pencapaian mimpi ini kami terus mendapatkan dukungan dari keluarga, terutama orang  tua kami. Terimakasih untuk Tuhan atas limpahan Karunianya, terimakasih pula untuk orang tua kami, para donatur dan terimakasih DJARUM Foundation untuk membantu kami meraih mimpi ini." ungkap Obet.